7 Faktor Penyebab Anak Autisme


Autisme adalah gangguan perkembangan yang sangat kompleks pada anak. Gejala yang tampak adalah gangguan dalam bidang perkembangan: perkembangan interaksi dua arah, perkembangan interaksi timbal balik, dan perkembangan perilaku.
Hingga saat ini kepastian mengenai autisme belum juga terpecahkan. Padahal, perkembangan jumlah anak autis sekarang ini kian mengkhawatirkan. Di Amerika Serikat, perbandingan anak autis dengan yang normal 1:150, sementara di Inggris 1:100. Indonesia belum punya data akurat mengenai itu.
Para ilmuwan menyebutkan autisme terjadi karena kombinasi berbagai faktor, termasuk faktor genetik yang dipicu faktor lingkungan. Berikut adalah faktor-faktor yang diduga kuat mencetuskan autisme yang masih misterius ini.
Ada beberapa faktor genetika dan lingkungan yang diperkirakan dapat memicu autisme, tetapi penyebab pastinya belum diketahui. Ada juga beberapa hal yang dikiramenyebabkan autisme, tapi ternyata tidak terbukti, yaitu:
Senyawa thiomersal yang mengandung merkuri (digunakan sebagai pengawet untuk beberapa vaksin).
Vaksin campak, gondong, dan rubela (MMR).
Pola makan, seperti mengonsumsi gluten atau produk susu.
Pola asuh anak.
Selain itu, ada beberapa kategori yang dapat digunakan untuk mengelompokkan faktor pemicu risiko autisme, di antaranya:

1. Faktor Keturunan Dalam Autisme

Para ahli mencurigai bahwa salah satu faktor risiko autisme adalah genetik (keturunan) karena adanya peningkatan risiko autisme pada anak jika memiliki saudara penderita autisme.
• Pada kembar identik dengan genetik yang sama, jika salah satunya adalah penderita autisme, sembilan dari 10 kasus menunjukkan bahwa kembarannya juga akan menderita autis.
• Jika seorang anak menderita autisme, saudaranya diketahui memiliki risiko terkena autisme yang lebih tinggi.
Namun, faktor genetik secara spesifik yang merupakan penyebab autis masihlah belum diketahui dengan baik. Beberapa gen tampaknya terlibat langsung sebagai penyebab autis, sebagian mungkin mempengaruhi perkembangan otak, dan sebagian lain dapat mempengaruhi tingkat keparahan gejalanya. Peneliti masih berupaya untuk mempelajari lebih lanjut faktor genetik serta mekanismenya yang berkaitan dengan kasus autisme.
Mutasi dari gen tertentu dapat mempertinggi risiko autisme pada anak. Ada gen-gen keturunan tertentu yang dipercaya dapat membuat anak-anak lebih rentan terhadap autisme.
Jika ada orang tua dengan anak autis, mereka dipercaya memiliki kemungkinan lebih tinggi untuk memiliki seorang anak yang mengidap autis lagi. Sedangkan jika salah seorang anak kembar mengidap autisme, kemungkinan saudara kembarnya mengidap kelainan yang sama juga.
Ada bukti kuat yang menyatakan perubahan dalam gen berkontribusi pada terjadinya autisme. Menurut National Institute of Health, keluarga yang memiliki satu anak autisme memiliki peluang 1-20 kali lebih besar untuk melahirkan anak yang juga autisme.
Penelitian pada anak kembar menemukan, jika salah satu anak autis, kembarannya kemungkinan besar memiliki gangguan yang sama.
Secara umum para ahli mengidentifikasi 20 gen yang menyebabkan gangguan spektrum autisme. Gen tersebut berperan penting dalam perkembangan otak, pertumbuhan otak, dan cara sel-sel otak berkomunikasi.
2. Faktor lingkungan

Segala sesuatu di luar tubuh yang dapat mempengaruhi kesehatan. Beberapa faktor lingkungan yang diduga berkaitan dengan autisme pada anak adalah kondisi dan sejarah kesehatan keluarga, usia ayah, paparan racun dan polusi dari lingkungan, infeksi virus, serta komplikasi saat kehamilan dan kelahiran. Sama seperti faktor genetik, faktor lingkungan yang berpengaruh terhadap risiko autisme dan bagaimana mekanismenya masih dipelajari lebih lanjut.
pada anak belum diketahui dengan pasti, terdapat beberapa faktor yang banyak terbukti berkaitan dengan kasus autisme:
• Anak laki-laki diketahui memiliki risiko terkena autisme yang lebih tinggi hingga empat sampai lima kali apabila dibandingkan dengan anak perempuan.
• Seorang anak lebih berisiko terkena autis jika memiliki saudara penderita autis. Terkadang, anak dengan autisme memiliki orang tua atau keluarga yang memiliki gangguan kecil dalam hal kemampuan social dan komunikasi.
• Gangguan penyakit tertentu seperti tumor pada otak, kelainan genetik, gangguan sistem syaraf, dan epilepsi berkaitan dengan peningkatan risiko autis pada anak. Sekitar 10% dari anak autis diketahui memiliki gangguan-gangguan penyakit ini.
• Usia orang tua yang lebih tua diduga berkaitan dengan peningkatan risiko autis pada anak.
• Konsumsi beberapa jenis obat saat kehamilan diyakini berkaitan dengan peningkatan risiko autis.
Perlu diketahui bahwa penelitian mengenai faktor-faktor ini masih terus berlanjut sehingga kepastian hubungan antara faktor-faktor ini dengan risiko autisme masih dapat berubah.

3. Pengaruh Kelahiran dan Masa Dalam Kandungan

Seorang anak mungkin terpajan faktor-faktor lingkungan tertentu selama berada dalam kandungan. Sebagian peneliti mengungkapkan teori bahwa anak yang terlahir rentan terhadap autisme hanya akan positif mengidap autisme jika terpajan faktor pemicu tertentu dari lingkungan, antara lain:
Kelahiran prematur.
Terpajan alkohol atau obat-obatan, misalnya sodium valproate yang terkadang digunakan untuk mengobati epilepsi, selama dalam kandungan.

4. Pengaruh Faktor Neurologis

Gangguan spesifik pada perkembangan otak dan sistem saraf juga dapat berpengaruh. Menurut teori medis dan penelitian pemetaan otak yang mempelajari penyandang autisme, koneksi antara bagian-bagian otak mungkin mengalami kekacauan atau menjadi hipersensitif.
Koneksi yang kacau atau hipersensitif tersebut mengakibatkan para penyandang autisme tiba-tiba merasakan respons emosional berlebihan saat melihat objek atau kejadian sepele. Mungkin inilah alasan para penyandang autisme menyukai rutinitas dan sangat marah jika terjadi perubahan. Rutinitas memberi mereka pola perilaku yang tidak memancing respons emosional yang berlebihan.
Area tertentu di otak, termasuk serebal korteks dan cerebellum yang bertanggung jawab pada konsentrasi, pergerakan dan pengaturan mood, berkaitan dengan autisme. Ketidakseimbangan neurotransmiter, seperti dopamin dan serotonin, di otak juga dihubungkan dengan autisme.

5. Pengaruh Faktor Psikologis Dalam Autisme

Salah satu faktor risiko yang diperkirakan memengaruhi gejala penyandang autisme adalah perbedaan mereka dalam pola pikir. Sebuah konsep yang dikenal sebagai ‘teori pikiran’ (theory of mind) menjadi dasar dalam berbagai penelitian yang mendalami kemungkinan pengaruh faktor psikologis terhadap autisme. Teori ini memaparkan tentang kemampuan seseorang untuk memahami kondisi kejiwaan orang lain dan menyadari bahwa tiap individu memiliki keinginan, keyakinan, emosi, serta hasrat masing-masing.
Anak-anak yang normal dianggap sudah memahami teori pikiran saat berusia sekitar empat tahun. Sedangkan anak-anak dengan autisme memiliki pemahaman terbatas atau tidak sama sekali tentang teori pikiran. Keterbatasan inilah yang mungkin menjadi akar permasalahan mereka dalam interaksi sosial serta menjadi alasan adanya gejala psikologis dalam autisme.

6. Pengaruh Usia Ibu

Makin tua usia orangtua saat memiliki anak, makin tinggi risiko si anak menderita autisme. Penelitian yang dipublikasikan tahun 2010 menemukan, perempuan usia 40 tahun memiliki risiko 50 persen memiliki anak autisme dibandingkan dengan perempuan berusia 20-29 tahun.
"Memang belum diketahui dengan pasti hubungan usia orang tua dengan autisme. Namun, hal ini diduga karena terjadinya faktor mutasi gen," kata Alycia Halladay, Direktur Riset Studi Lingkungan Autism Speaks.

7. Obat-obatan
Bayi yang terpapar obat-obatan tertentu ketika dalam kandungan memiliki risiko lebih besar mengalami autisme. Obat-obatan tersebut termasuk valproic dan thalidomide. Thalidomide adalah obat generasi lama yang dipakai untuk mengatasi gejala mual dan muntah selama kehamilan, kecemasan, serta insomnia.
Obat thalidomide sendiri di Amerika sudah dilarang beredar karena banyaknya laporan bayi yang lahir cacat. Namun, obat ini kini diresepkan untuk mengatasi gangguan kulit dan terapi kanker. Sementara itu, valproic acid adalah obat yang dipakai untuk penderita gangguan mood dan bipolar disorder.

baca juga http://edubagi.blogspot.co.id/2016/03/11-macam-terapi-terbaik-dan-paling.html

Enter Your Email for subscribe

0 Response to "7 Faktor Penyebab Anak Autisme"

Post a Comment